
SUMENEP | Detakindo.com – Peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk kembali meneguhkan nilai-nilai pesantren dalam kehidupan sehari-hari. Santri tidak hanya identik dengan sarung dan peci, tetapi juga dengan akhlak, kedisiplinan, kejujuran, serta semangat pengabdian kepada masyarakat.
Hal itu disampaikan Samsiyadi dari Fraksi Partai NasDem, Senin (19/10/2026). Ia menegaskan, esensi Hari Santri tidak cukup dimaknai melalui penggunaan pakaian khas santri, melainkan harus diwujudkan melalui perilaku dan tindakan nyata.
“Esensi Hari Santri bukan sekadar mengenakan pakaian khas santri, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai kesantrian dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Samsiyadi.
Menurutnya, nilai-nilai yang diajarkan di pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Sikap tawaduk, menghormati guru, menjaga persaudaraan, serta mengutamakan akhlak merupakan bagian dari tradisi kesantrian yang perlu terus dipertahankan.
Ia menilai, di tengah perkembangan zaman, nilai-nilai tersebut semakin relevan untuk menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Peringatan Hari Santri, lanjutnya, juga harus menjadi pengingat bahwa santri memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Peran itu dapat diwujudkan melalui pendidikan, kegiatan sosial, penguatan persatuan, hingga keterlibatan aktif dalam pembangunan.
Samsiyadi berharap, peringatan Hari Santri tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tahunan, tetapi mampu mendorong masyarakat untuk meneladani semangat perjuangan, keikhlasan, dan pengabdian yang menjadi karakter santri.
“Yang terpenting bukan hanya penampilan sebagai santri, tetapi bagaimana nilai-nilai kesantrian benar-benar tercermin dalam sikap dan perbuatan sehari-hari,” tegasnya.
Dengan semangat Hari Santri, nilai-nilai luhur pesantren diharapkan terus tumbuh dan menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang berakhlak, berilmu, serta menjunjung tinggi persatuan dan kebangsaan.







