Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa

Iklan 160x600

Di Tengah Gemerlap Hari Jadi Sumenep ke-757, Tongkrongan KDS dan Tanian Aksara Memilih Merawat Sejarah

Di Tengah Semarak Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep, Tongkrongan KDS dan Tanian Aksara menghadirkan ruang diskusi sejarah bertajuk “Sumenep, Ibu Nusantara”. Sebuah ikhtiar sederhana untuk

Di Tengah Semarak Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep, Tongkrongan KDS dan Tanian Aksara menghadirkan ruang diskusi sejarah bertajuk “Sumenep, Ibu Nusantara”. Sebuah ikhtiar sederhana untuk menghidupkan kembali kesadaran sejarah, merawat identitas daerah, dan mendekatkan generasi muda pada warisan peradaban leluhur.

Di saat berbagai event dan hiburan mewarnai perayaan hari jadi, ada cara lain untuk mencintai Sumenep: duduk bersama, bertukar pikiran, membaca sejarah, dan menggali makna di balik perjalanan panjang sebuah daerah.

Inisiatif yang digagas Ibnu Syaifur Rahman ini lahir dari kepedulian terhadap sejarah dan kebudayaan Sumenep. Dengan biaya sendiri, tanpa menunggu panggung besar maupun dukungan birokrasi, ia mengajak kawan-kawan membangun ruang belajar bersama melalui Tongkrongan KDS dan Tanian Aksara.

Bagi mereka, merayakan hari jadi tidak harus selalu melalui kemeriahan. Ada hal yang tak kalah penting untuk dilakukan, yakni memahami sejarah yang membentuk identitas dan perjalanan masyarakat Sumenep hingga hari ini.

Diskusi tersebut menghadirkan dua narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Pertama, Dr. KH. Muhammad Shalahuddin A. Warits, M.Hum., atau yang akrab disapa Ra Mamak, sebagai penggagas gagasan Sumenep Ibu Nusantara. Kedua, RB. Abdurrahman, yang dikenal dengan sapaan Gus Mang Seppuh, sebagai perwakilan Keraton Sumenep.

Melalui perspektif literasi sejarah yang disampaikan Ra Mamak, peserta diajak melihat Sumenep tidak semata-mata sebagai wilayah geografis, tetapi juga sebagai ruang sejarah yang menyimpan nilai, simbol, dan perjalanan peradaban yang layak ditelusuri lebih jauh.

Gagasan “Sumenep, Ibu Nusantara” menjadi pintu masuk untuk membicarakan kembali akar sejarah, identitas, serta kemungkinan posisi Sumenep dalam bentang peradaban Nusantara. Gagasan ini sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk bertanya, mengkaji, dan memperluas pemahaman terhadap sejarah daerahnya sendiri.

Sementara itu, kehadiran Gus Mang Seppuh memberikan perspektif dari lingkungan Keraton Sumenep, terutama dalam memperkaya percakapan mengenai tradisi, warisan budaya, dan ingatan sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Sumenep.

Pertemuan kedua perspektif tersebut menegaskan bahwa sejarah tidak cukup hanya dibanggakan sebagai peninggalan masa lalu. Sejarah perlu dibaca, didiskusikan, ditelaah melalui berbagai sumber, serta diwariskan dengan pemahaman yang terus berkembang.

Mencintai sejarah bukan berarti menutup diri dari pertanyaan. Sebaliknya, kecintaan itu tumbuh ketika masyarakat berani menggali fakta, memahami konteks, dan mendiskusikan berbagai pandangan secara terbuka.

Dari Tongkrongan, Menyalakan Kesadaran Sejarah

Di sinilah ruang-ruang diskusi yang tumbuh dari inisiatif masyarakat menemukan arti pentingnya.

Kita tidak harus menunggu panggung besar untuk melahirkan gagasan. Tidak harus menunggu anggaran besar untuk menyelenggarakan kegiatan yang bermanfaat. Dan tidak harus menunggu orang lain bergerak untuk mulai mengambil peran.

Terkadang, langkah kecil justru berawal dari tongkrongan sederhana, secangkir kopi, beberapa orang yang memiliki kepedulian, serta keberanian untuk membuka percakapan.

Pembangunan daerah bukan hanya tentang menghadirkan kemeriahan dan menyelenggarakan berbagai acara. Lebih dari itu, pembangunan juga menyangkut bagaimana kesadaran masyarakat tumbuh, pengetahuan berkembang, dan identitas budaya tetap terjaga.

Peringatan Hari Jadi ke-757 Kabupaten Sumenep semestinya menjadi momentum untuk merayakan daerah sekaligus memperdalam pemahaman terhadap sejarahnya. Sebab, sebuah daerah tidak hanya dibentuk oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh ingatan kolektif, nilai kebudayaan, dan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi.

Sumenep memiliki kekayaan sejarah dan kebudayaan yang patut terus digali. Namun, warisan tersebut akan kehilangan sebagian maknanya apabila hanya menjadi kebanggaan tanpa pengetahuan, atau sekadar cerita yang diwariskan tanpa pernah dipelajari kembali.

Melalui Tongkrongan KDS dan Tanian Aksara, langkah kecil itu mulai dirawat. Bukan untuk mengklaim sebagai pihak yang paling memahami sejarah, melainkan untuk membuka ruang belajar bersama. Bukan pula untuk menetapkan satu-satunya tafsir, melainkan untuk mempertemukan pemikiran dan memperluas cakrawala pengetahuan.

Sumenep, Ibu Nusantara bukan sekadar rangkaian kata. Ia menjadi gagasan yang layak direnungkan, sejarah yang perlu dipelajari, dan identitas yang terus diperbincangkan melalui dialog yang terbuka dan bertanggung jawab.

Dari ruang sederhana, semoga lahir pemikiran besar. Dari percakapan kecil, semoga tumbuh kesadaran kolektif. Dan dari inisiatif masyarakat, semoga hadir kontribusi nyata bagi masa depan Sumenep.

Sebab, kita tidak hanya mewarisi sejarah dari para leluhur. Kita juga memiliki tanggung jawab untuk mempelajarinya, merawatnya, dan mewariskan pemahaman yang lebih baik kepada generasi berikutnya.

Tongkrongan KDS × Tanian Aksara

Merawat Ingatan, Menyemai Gagasan, Menjaga Warisan Sejarah Sumenep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan 160x600

Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa