Jombang | DetakIndo.com – Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) bukanlah arena untuk saling berebut kekuasaan. Muktamar sejatinya merupakan titik temu para ulama, masyarakat Nahdliyin, kader, dan umara untuk bermusyawarah, menyatukan pandangan, serta merumuskan arah perjalanan NU di masa yang akan datang.
Sebagai organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang memiliki sejarah panjang, NU telah melewati berbagai zaman dan perubahan sosial-politik. Karena itu, setiap pelaksanaan muktamar seharusnya ditempatkan sebagai momentum penting untuk melakukan refleksi: ke mana NU akan melangkah dan bagaimana NU dapat terus memberikan manfaat yang lebih besar bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Muktamar bukan semata-mata tentang siapa yang akan memimpin, tetapi jauh lebih penting adalah untuk apa kepemimpinan itu dijalankan.
Pergantian kepemimpinan dalam sebuah organisasi adalah hal yang wajar. Namun, jangan sampai proses tersebut justru menggeser substansi muktamar menjadi pertarungan kepentingan. NU terlalu besar untuk hanya dipandang sebagai arena perebutan posisi. NU memiliki jutaan Nahdliyin, pesantren, ulama, akademisi, aktivis, dan berbagai elemen masyarakat yang menggantungkan harapan terhadap keberlanjutan perjuangan organisasi ini.
Karena itu, perbedaan pilihan dalam muktamar harus tetap berada dalam bingkai ukhuwah, adab, dan tradisi musyawarah. Perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, apalagi memutus persaudaraan.
Justru dari perbedaan itulah diharapkan lahir gagasan-gagasan terbaik untuk membawa NU menghadapi tantangan zaman.
Hari ini NU berhadapan dengan persoalan yang semakin kompleks. Perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, persoalan ekonomi umat, pendidikan, lingkungan, politik kebangsaan, hingga perubahan karakter generasi muda merupakan tantangan yang membutuhkan jawaban serius.
Maka, muktamar harus mampu melahirkan gagasan besar, bukan sekadar menghasilkan kontestasi kepemimpinan.
Para ulama memiliki peran penting dalam memberikan arah moral dan keagamaan. Para akademisi dapat menawarkan gagasan berbasis keilmuan. Para kader dan masyarakat Nahdliyin membawa pengalaman lapangan serta energi perubahan. Sementara para umara memiliki tanggung jawab dalam memastikan kebijakan dan pembangunan dapat berjalan untuk kepentingan masyarakat.
Jika seluruh elemen tersebut dapat duduk bersama dalam semangat persaudaraan, maka muktamar akan menjadi ruang strategis untuk merumuskan masa depan NU.
Kita tidak membutuhkan muktamar yang meninggalkan luka. Kita membutuhkan muktamar yang melahirkan harapan.
NU harus keluar dari muktamar dengan persatuan yang lebih kuat, program yang lebih jelas, serta komitmen yang lebih besar terhadap kemaslahatan umat.
Pada akhirnya, jabatan dalam NU hanyalah amanah dan memiliki batas waktu. Sementara perjuangan untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan merupakan tanggung jawab yang jauh lebih panjang.
Maka, muktamar NU harus menjadi titik temu, bukan titik benturan. Menjadi ruang musyawarah, bukan arena pertarungan. Menjadi tempat merumuskan masa depan, bukan sekadar menentukan siapa yang berkuasa.
Sebab NU bukan milik satu kelompok, bukan milik satu tokoh, dan bukan pula milik mereka yang sedang memegang jabatan. NU adalah rumah besar Nahdliyin yang harus terus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya dalam keadaan semakin kuat dan bermanfaat.
Muktamar NU adalah ikhtiar bersama untuk memastikan satu hal: NU harus terus hadir untuk umat, bangsa, dan kemaslahatan bersama.






