Oleh : Moh. Syauqi | Sekertaris BEM Nusantara Jawa Timur.
Tembakau Madura bukan sekadar hasil pertanian yang berpindah dari tangan petani ke gudang pembelian. Di balik setiap lembar daun yang berkualitas, ada modal yang tidak sedikit, tenaga yang tidak terhitung, serta risiko yang setiap musim harus ditanggung petani.
Kualitas tembakau Madura sudah memiliki karakter tersendiri. Aroma, warna, tekstur, hingga cita rasanya menjadi bagian dari keunggulan yang membuatnya tetap dicari. Namun, persoalannya bukan hanya bagaimana menghasilkan tembakau berkualitas, melainkan bagaimana kualitas tersebut dihargai secara layak.
Pengusaha jangan hanya pandai menghitung keuntungan, tetapi juga harus mampu menghitung keringat petani.
Petani tidak meminta belas kasihan. Mereka hanya meminta harga yang sepadan dengan kualitas dan biaya yang telah dikeluarkan. Jangan ketika kualitas tembakau bagus, justru harga ditekan dengan berbagai alasan. Jika pola seperti ini terus terjadi, siapa yang akan menjamin petani tetap bersemangat menghasilkan tembakau terbaik?
Harus ada kejujuran dalam perdagangan tembakau. Jika kualitas memang bagus, katakan bagus dan berikan harga yang pantas. Jangan mencari keuntungan dengan memanfaatkan posisi petani yang berada di ujung rantai perdagangan.
Sebab, kalau petani terus merasa dirugikan, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh petani. Pengusaha juga akan kehilangan pemasok yang mampu menghasilkan bahan baku berkualitas.
Tembakau yang bagus tidak lahir dari proses yang murah.
Ada biaya produksi, ada cuaca yang tidak menentu, ada ancaman gagal panen, dan ada tenaga keluarga petani yang ikut bekerja. Semua itu seharusnya menjadi pertimbangan ketika harga ditentukan.
Karena itu, musim tembakau bukan waktunya bermain-main dengan harga. Ini waktunya membangun hubungan yang adil antara petani dan pengusaha.
Kalau ingin tembakau Madura tetap berkualitas, jangan hanya membeli daunnya. Hargai pula orang yang menanam dan merawatnya.
Petani sejahtera, kualitas terjaga, pengusaha tetap mendapatkan keuntungan. Itulah perdagangan yang sehat.
Jangan sampai kita bangga menyebut “tembakau Madura berkualitas”, tetapi ketika tiba waktunya membeli, kualitas itu justru dihargai serendah-rendahnya.
Tembakau boleh menjadi komoditas. Tetapi keringat petani jangan pernah dianggap murah.






