
JEMBER | Detakindo.com — Duta Damai Santri Jawa Timur menggandeng Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPNU) Jember menggelar edukasi dan sosialisasi tentang tantangan radikalisme di era digital. Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Suren, Jember, Jumat (30/10/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi digital sekaligus membangun kesadaran generasi muda terhadap ancaman penyebaran paham radikal melalui media sosial dan berbagai platform digital.
Koordinator Duta Damai Santri Jawa Timur, Mohammad Haris, mengatakan bahwa perkembangan teknologi informasi membawa peluang besar bagi generasi muda. Namun, di sisi lain, ruang digital juga rentan dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, intoleransi hingga propaganda ideologi ekstrem.
Menurutnya, keterlibatan organisasi kepemudaan dan komunitas santri sangat penting dalam membangun ketahanan generasi muda menghadapi berbagai tantangan kebangsaan.
“Melalui kegiatan edukasi dan sosialisasi ini, peserta diajak memahami pola penyebaran radikalisme di ruang digital, mengenali karakteristik konten yang mengarah pada paham ekstrem, serta membangun kemampuan berpikir kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, media digital semestinya tidak hanya menjadi ruang konsumsi informasi, tetapi juga dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, moderasi beragama, dan nilai-nilai kebangsaan.
Sementara itu, Sekretaris Duta Damai Santri Jawa Timur, Abdul Warits, menilai santri dan pelajar memiliki posisi strategis dalam menciptakan ekosistem digital yang sehat dan damai.
Dengan bekal pemahaman keagamaan, wawasan kebangsaan, serta kecakapan literasi digital, generasi muda diharapkan mampu menjadi garda edukasi dalam menangkal penyebaran paham ekstremisme.
Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi dengan PC IPNU Jember merupakan langkah untuk memperluas gerakan perdamaian berbasis komunitas pelajar dan pesantren.
Menurutnya, organisasi kepemudaan tidak cukup hanya menjadi ruang kaderisasi, tetapi juga harus mengambil peran dalam membangun kesadaran kritis terhadap persoalan sosial, keagamaan, dan kebangsaan.
“Duta Damai Santri Jawa Timur berharap lahir generasi muda yang tidak mudah terpengaruh propaganda ekstremisme, bijak bermedia sosial, serta aktif memproduksi dan menyebarkan konten positif,” ungkapnya.
Ia berharap ruang digital dapat berkembang menjadi medium dakwah perdamaian, penguatan persaudaraan, serta pengamalan nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin.
Kolaborasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga ruang digital dari pengaruh radikalisme bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif santri, pelajar, dan seluruh elemen masyarakat.







