Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa

Iklan 160x600

Hamba Sebagai Meja Taruhan Tuhan

Oleh: Moh. Syauqi Itulah kalimat yang sering terlintas, tapi tak berani diucapkan. Seolah-olah Tuhan sedang bermain judi dengan kita: Diciptakan-Nya Surga dan Neraka, lalu dibiarkan

Oleh: Moh. Syauqi

Itulah kalimat yang sering terlintas, tapi tak berani diucapkan. Seolah-olah Tuhan sedang bermain judi dengan kita: Diciptakan-Nya Surga dan Neraka, lalu dibiarkan kita memilih, dengan taruhan akhir yang begitu besar – kekal selamanya. Jika kita patuh karena takut Neraka, bukankah itu artinya kita hanyalah bidak dari taruhan itu?

Pertanyaan itu terdengar lancang, tapi jujur. Dan semua pencarian iman yang serius selalu berawal dari pertanyaan yang lancang.

Mari kita luruskan dulu: Tuhan tidak berjudi. Dalam judi, ada bandar yang tidak tahu hasilnya dan berharap untung dari kekalahan pemain. Tuhan bukan bandar. Dia Maha Tahu hasilnya. Dia tidak butuh keuntungan dari ibadah kita.

Yang ada bukan judi, melainkan janji yang dibungkus konsekuensi.

Kenapa harus ada Surga dan Neraka?

Karena tanpa keduanya, kebebasan yang diberikan Tuhan kepada kita menjadi palsu. Bayangkan Tuhan berkata: “Kamu bebas memilih baik atau buruk, tapi apapun pilihanmu hasilnya sama saja.” Itu bukan kebebasan, itu sandiwara.

Kebebasan sejati selalu mengandung risiko dan tanggung jawab. Surga dan Neraka adalah penanda bahwa pilihan kita di dunia ini serius, tidak main-main, dan memiliki akibat yang nyata.

Lalu kenapa banyak dari kita akhirnya menyembah hanya karena takut Neraka?

Bukan karena Tuhan ingin kita menjadi penakut. Tapi karena kita sendiri yang memilih berhenti di level pertama dalam beragama.

Agama mengenal tiga motivasi:

  1. Ibadah karena takut. Ini ibadah level dasar. Seperti anak kecil yang tidak mencuri karena takut dipukul. Tidak salah, tapi belum dewasa. Untuk orang di level inilah Neraka sering disebutkan, agar ia punya rem.
  2. Ibadah karena ingin untung. Ia shalat, sedekah, puasa, karena ingin Surga. Ini ibadah pedagang. Menghitung pahala seperti menghitung laba. Lebih baik dari takut, tapi masih transaksional.
  3. Ibadah karena cinta. Ini puncaknya. Ia menyembah bukan karena takut Neraka dan bukan karena ingin Surga. Ia menyembah karena ia mencintai Tuhannya. Surga dan Neraka menjadi kecil di hadapan cinta itu.

Seorang sufi perempuan, Rabiah Al-Adawiyah, pernah berkata: “Jika aku menyembah-Mu karena takut Neraka, masukkan aku ke dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap Surga, haramkan aku darinya. Tapi jika aku menyembah-Mu karena Engkau sendiri, jangan halangi aku dari-Mu.”

Di situ letak jawabannya. Surga dan Neraka bukan tujuan. Mereka hanya rambu di jalan. Tujuan yang sebenarnya adalah Dia sendiri.

Jika hari ini kita masih menyembah karena takut, tidak apa-apa. Akui saja. Tapi jangan menetap di sana. Tugas seumur hidup kita adalah mengubah rasa takut itu perlahan menjadi harap, dan harap itu perlahan menjadi cinta.

Karena pada akhirnya, Tuhan tidak mencari hamba yang penakut. Dia mencari hamba yang pulang karena rindu, bukan karena terpaksa.

Opini ini saya buat ketika berdiskusi tentang tuhan bersama Sahabat-sahabat saya.

#Kancakona Kopi, Kamis, 1 Oktober 2026 .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan 160x600

Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa