Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa

Iklan 160x600

Menjadi Penyuluh Agama di Tengah Riuh Digital Gen Z

Oleh: Rofiqi Seorang Penyuluh Agama Islam di era digital memiliki pengalaman yang penuh tantangan sekaligus peluang. Perubahan zaman telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, termasuk

Foto: Ilustrasi AI

Oleh: Rofiqi

Seorang Penyuluh Agama Islam di era digital memiliki pengalaman yang penuh tantangan sekaligus peluang. Perubahan zaman telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi, termasuk informasi keagamaan. Jika dahulu masyarakat banyak memperoleh pengetahuan agama melalui pengajian, majelis taklim, masjid, atau pesantren, saat ini generasi muda dapat memperoleh berbagai informasi hanya melalui layar smartphone.

Kondisi ini semakin terasa ketika berhadapan dengan Generasi Z. Mereka adalah generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Mereka memiliki akses informasi yang sangat luas, tetapi pada saat yang sama juga menghadapi berbagai persoalan baru: banjir informasi, perbedaan pandangan, tekanan sosial, persoalan mental, krisis kepercayaan, hingga munculnya konten keagamaan yang terkadang disampaikan secara keras dan provokatif.

Di tengah kondisi ini, saya menyadari bahwa tugas Penyuluh Agama Islam bukan hanya menyampaikan ceramah dari mimbar. Namun, ia harus mampu hadir di ruang kehidupan masyarakat, termasuk ruang digital tempat generasi muda menghabiskan banyak waktu.

Dari pengalaman tersebut, saya berusaha menerapkan nilai-nilai moderasi beragama melalui dua jalur. Pertama, melalui bimbingan dan penyuluhan secara langsung. Kedua, melalui pemanfaatan media sosial TikTok dengan konten “Curhat Gen Z”.

Bagi saya, moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama. Moderasi adalah bagaimana seseorang mampu menjalankan agamanya secara seimbang, adil, toleran, menghargai perbedaan, serta menghadirkan agama sebagai rahmat dan solusi dalam kehidupan.

Mendampingi Gen Z dengan Mendengarkan

Dalam kegiatan bimbingan dan penyuluhan, saya belajar bahwa generasi muda tidak selalu membutuhkan ceramah yang panjang. Terkadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan.

Mereka datang dengan berbagai persoalan. Ada yang bingung menghadapi perbedaan pendapat dalam agama, ada yang merasa tertekan karena lingkungan pertemanan, ada yang bertanya tentang hubungan antara agama dan kehidupan modern, bahkan ada yang merasa bahwa agama terlalu sering disampaikan dalam bentuk larangan dan ancaman.

Saya berusaha menjadikan kegiatan penyuluhan sebagai ruang dialog. Saya ingin mereka merasa aman untuk bertanya tanpa takut langsung dicap salah. Dari sini saya mencoba memperkenalkan nilai-nilai moderasi beragama, yakni dengan mengajak mereka memahami bahwa berbeda pendapat tidak selalu berarti bermusuhan. Perbedaan dalam persoalan keagamaan harus disikapi dengan ilmu, adab, dan penghormatan.

Di samping itu, saya juga mengajak mereka memahami bahwa menjadi muslim yang baik bukan hanya ditandai oleh kesalehan individual, tetapi juga oleh bagaimana seseorang memperlakukan orang lain. Sebab, agama harus mampu melahirkan sikap yang membuat kehidupan menjadi lebih damai, bukan semakin gaduh.

“Curhat Gen Z” di Platform TikTok

Kesadaran bahwa generasi muda banyak menghabiskan waktunya di media sosial mendorong saya untuk mencoba pendekatan yang lebih kreatif. Saya kemudian memanfaatkan TikTok sebagai salah satu media penyuluhan melalui konten “Curhat Gen Z”.

Melalui konsep yang sederhana, saya mencoba mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda, kemudian memberikan tanggapan dari perspektif keagamaan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Dalam hal ini, saya tidak ingin tampil sebagai orang yang selalu merasa paling tahu. Saya lebih memilih menjadi teman berdiskusi yang kemudian memberikan perspektif berdasarkan nilai-nilai agama.

Dalam konteks ini, saya memegang sebuah prinsip yang kemudian menjadi slogan dalam semangat pengabdian saya: “Penyuluh Agama bukan Penyulut Agama, Menyinari bukan Membakar.” Kalimat tersebut bukan sekadar slogan, tetapi menjadi pengingat bahwa tugas penyuluh adalah menyejukkan bukan memanaskan, menjelaskan bukan menghakimi, dan menyatukan bukan mempertentangkan.

Salah satu pengalaman yang menurut saya menarik dalam konteks moderasi beragama adalah ketika membahas persoalan bencana dalam konten “Curhat Gen Z”. Di momen ini, seorang anak muda bertanya:

“Kalau terjadi bencana seperti banjir, gempa, tanah longsor atau musibah lainnya, apakah kita boleh mengatakan bahwa bencana itu adalah azab Tuhan kepada orang-orang yang terkena musibah?”

Pertanyaan tersebut mungkin sederhana, tetapi memiliki persoalan keagamaan dan kemanusiaan yang sangat besar. Di media sosial, kita sering menemukan komentar yang tergesa-gesa menghubungkan sebuah bencana dengan dosa masyarakat. Bahkan terkadang ada yang mengatakan bahwa korban bencana sedang mendapatkan hukuman Tuhan.

Untuk itu, saya mencoba mengajak Gen Z melihat persoalan tersebut secara lebih bijaksana. Kita memang meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa kehidupan. Tetapi manusia tidak memiliki kewenangan untuk memastikan bahwa korban tertentu sedang diazab karena dosa tertentu.

Di sinilah pentingnya moderasi dalam memahami bencana. Kita harus mampu membedakan antara mengambil hikmah dari sebuah musibah dan menghakimi korban musibah. Ketika seseorang terkena bencana, respons pertama yang seharusnya muncul bukanlah mencari kesalahan korban, tetapi menghadirkan empati dan pertolongan.

Kalimat yang lebih tepat bukan: “Itu azab karena mereka banyak dosa.” Akan tetapi: “Ini adalah musibah yang harus kita hadapi bersama. Mari membantu korban, melakukan evaluasi, memperbaiki lingkungan, dan mengambil pelajaran agar risiko bencana dapat dikurangi.” Dan bagi saya, di sinilah agama menunjukkan wajah rahmatnya.

Moderasi dalam Memahami Bencana

Saya kemudian mengajak generasi muda memahami bahwa bencana dapat dilihat dari berbagai sisi. Dari sisi keimanan, bencana menjadi momentum untuk memperkuat kesabaran, doa, introspeksi, dan ketawakalan kepada Allah. Dari sisi kemanusiaan, bencana merupakan panggilan untuk membantu mereka yang terdampak.

Dari sisi sosial, bencana mengajarkan pentingnya solidaritas dan gotong royong. Sedangkan dari sisi ilmiah, bencana perlu dipahami berdasarkan kondisi alam, lingkungan, tata ruang, perubahan iklim, serta faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko.

Keempat perspektif tersebut tidak perlu dipertentangkan. Seorang muslim dapat beriman kepada Allah sekaligus mempercayai ilmu pengetahuan. Seorang muslim dapat berdoa sekaligus melakukan mitigasi bencana. Seorang muslim dapat bertawakal sekaligus melakukan usaha maksimal untuk menyelamatkan manusia. Justru di sinilah saya melihat nilai tawazun, yaitu keseimbangan. Jangan sampai kita hanya mengatakan, “Ini sudah takdir,” lalu tidak melakukan apa-apa. Tetapi jangan pula merasa bahwa manusia mampu mengendalikan seluruh kehidupan tanpa membutuhkan Allah.

Dalam konteks bencana, saya juga berusaha mengajak Gen Z untuk berhati-hati dalam menggunakan media sosial. Ketika bencana terjadi, informasi berkembang sangat cepat. Foto korban, video evakuasi, berita kerusakan, bahkan berbagai spekulasi keagamaan dapat beredar dalam hitungan menit. Di sinilah moderasi beragama bertemu dengan literasi digital.

Saya mengajak mereka untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Jangan menjadikan penderitaan korban sebagai bahan konten. Jangan menyebarkan foto atau video korban tanpa mempertimbangkan martabat dan perasaan keluarga. Jangan pula menggunakan bencana sebagai kesempatan untuk menyerang kelompok agama, organisasi, pemerintah, atau kelompok masyarakat tertentu.

Sebaliknya, media sosial seharusnya dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat: menyebarkan informasi resmi, menggalang bantuan, mencari relawan, memberikan edukasi mitigasi, dan menguatkan para korban. Dengan demikian, moderasi beragama tidak berhenti pada kata “toleransi”, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata ketika manusia menghadapi persoalan bersama.

Penyuluh Agama: Menyinari, bukan Membakar

Pengalaman mendampingi Gen Z membuat saya semakin yakin bahwa seorang Penyuluh Agama Islam harus memiliki kemampuan untuk membaca situasi. Ketika masyarakat sedang menghadapi perbedaan, penyuluh harus menjadi penyejuk. Ketika masyarakat sedang menghadapi konflik, penyuluh harus menjadi jembatan.

Ketika masyarakat sedang menghadapi bencana, penyuluh harus hadir membawa empati, doa, edukasi, dan semangat gotong royong. Ketika generasi muda sedang bingung menghadapi derasnya informasi, penyuluh harus membantu mereka memilah mana yang benar, mana yang menyesatkan, dan mana yang perlu disikapi dengan bijaksana.

Sebab itu, saya merasa slogan “Penyuluh Agama bukan Penyulut Agama, Menyinari bukan Membakar” sangat relevan dengan tugas saya. Penyuluh Agama tidak boleh menjadi orang yang membuat masyarakat semakin panas karena perbedaan. Penyuluh justru harus mampu menghadirkan cahaya ketika masyarakat berada dalam kebingungan. Menyinari berarti memberikan pemahaman serta menunjukkan bahwa agama dapat menjadi rahmat bagi semua.

Pengalaman melakukan bimbingan dan penyuluhan secara langsung serta membuat konten “Curhat Gen Z” di TikTok mengajarkan kepada saya bahwa media hanyalah sarana. Akan tetapi, yang lebih penting adalah pesan dan keteladanan yang dibawa. Mimbar hingga majelis taklim tetap penting. Tetapi di era digital, layar smartphone juga menjadi ruang dakwah yang tidak boleh diabaikan. Saya ingin memanfaatkan ruang tersebut untuk menghadirkan konten keagamaan yang ramah, edukatif, dan dekat dengan persoalan kehidupan anak muda.

Harapan saya sederhana, ketika seorang anak muda melihat konten “Curhat Gen Z”, mereka tidak hanya mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, tetapi juga belajar cara berpikir yang lebih dewasa. Ketika menghadapi perbedaan, mereka tidak buru-buru membenci. Ketika menerima informasi agama, mereka tidak mudah percaya sebelum melakukan tabayyun dan menjaga adab. Dan ketika menghadapi persoalan kehidupan, mereka tahu bahwa agama hadir bukan untuk menambah beban, tetapi untuk memberikan arah dan ketenangan.

Sebuah Ikhtiar Kecil

Saya menyadari bahwa apa yang saya lakukan sebagai Penyuluh Agama Islam masih jauh dari sempurna. Bimbingan dan penyuluhan yang dilakukan mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Satu konten TikTok mungkin hanya ditonton selama beberapa detik.

Namun saya percaya bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari pesan-pesan kecil yang disampaikan secara konsisten. Keberhasilan pun dapat diukur ketika anak muda belajar menghargai perbedaan, tidak ikut menyebar ujaran kebencian, memilih membantu korban bencana daripada menghakimi, serta memahami bahwa beragama dengan teguh tidak harus dilakukan dengan cara yang keras.

Bagi saya, hakikat moderasi beragama terletak pada aspek-aspek tersebut. Teguh dalam keyakinan, tetapi tidak keras dalam pergaulan.

Berbeda dalam pandangan, tetapi tetap bersaudara dalam kemanusiaan.

Beriman kepada Allah, sekaligus peduli terhadap sesama.

Karena pada akhirnya, tugas saya sebagai Penyuluh Agama Islam bukan sekadar membuat masyarakat lebih banyak tahu tentang agama, tetapi berusaha agar agama lebih terasa manfaatnya dalam kehidupan masyarakat. Dan saya ingin terus memegang satu prinsip bahwa “Penyuluh Agama Bukan Penyulut Agama. Menyinari, Bukan Membakar.”

Semoga setiap langkah kecil dalam bimbingan, setiap percakapan dengan generasi muda, dan setiap konten yang saya hadirkan di ruang digital menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, moderat, damai, dan membawa kemaslahatan bagi semua.

Penulis adalah Penyuluh Agama Islam di KUA Bluto Kementerian Agama Kabupaten Sumenep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan 160x600

Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa