Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa

Iklan 160x600

Pasien RS BHC Sumenep Meninggal Usai Disuntik, Keluarga Pertanyakan Penanganan Medis

SUMENEP | Detakindo.com – Meninggalnya seorang pasien di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Jawa Timur, menjadi sorotan setelah keluarga mempertanyakan penanganan medis yang

Video yang beredar di media sosial memperlihatkan perdebatan antara keluarga pasien dan seorang perawat RS BHC Sumenep terkait penanganan medis sebelum pasien dilaporkan meninggal dunia. (Detakindo.com)

SUMENEP | Detakindo.com – Meninggalnya seorang pasien di Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Jawa Timur, menjadi sorotan setelah keluarga mempertanyakan penanganan medis yang diterima pasien sebelum mengembuskan napas terakhir.

Persoalan tersebut mencuat ke ruang publik setelah video adu argumen antara keluarga pasien dan seorang perawat beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, pihak keluarga meminta penjelasan mengenai tindakan tenaga kesehatan, terutama saat kondisi pasien dilaporkan memburuk setelah menerima suntikan.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan pemilik akun TikTok @patah.tpi.kuat, kondisi pasien sebelumnya diklaim mulai membaik. Pasien bahkan disebut telah memperoleh izin dokter untuk menjalani rawat jalan. Namun, situasi berubah ketika pasien dilaporkan mengalami kejang setelah mendapatkan suntikan.

“Pas setelah disuntik langsung keluar busa sama liur banyak dan kejang-kejang,” tulis pemilik akun saat merespons pertanyaan warganet di kolom komentar, sebagaimana dikutip dari unggahan yang beredar pada Rabu (14/10/2026).

Informasi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan dari keluarga mengenai jenis obat yang diberikan dan kemungkinan kaitannya dengan perubahan kondisi pasien. Meski demikian, penyebab pasti kejang hingga kematian pasien belum diketahui dan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan keterangan dalam unggahan media sosial.

Keluarga Soroti Penanganan Saat Pasien Memburuk

Dalam video yang beredar, seorang pria yang diduga merupakan perwakilan keluarga pasien terdengar melayangkan protes kepada perawat. Ia mempertanyakan tindakan tenaga kesehatan ketika pasien disebut mengalami muntah-muntah.

Pria tersebut juga menyoroti dugaan penghentian aliran infus dan mempertanyakan keberadaan perawat saat kondisi pasien memburuk.

“Mbak, dengan kondisi pasien muntah-muntah, infus dimatikan, lalu mbak tinggalkan? Pasien dalam keadaan muntah, mbak tinggalkan? Maksud mbak gimana jadi perawat? Ayo jawab!” ujar pria itu dalam rekaman.

Perawat yang mengenakan seragam biru dan kerudung abu-abu tersebut kemudian memberikan penjelasan dengan didampingi petugas keamanan. Ia menyampaikan bahwa pemberian obat dilakukan secara bertahap dan setiap obat dijelaskan kepada pasien.

“Setiap saya ngasih obat, saya bilang kepada pasiennya, ini untuk penghilang muntahnya, sementara obat penghilang nyerinya saya masukkan terakhir,” tuturnya.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari silang pendapat antara keluarga dan tenaga kesehatan. Namun, rekaman video yang beredar belum cukup untuk menggambarkan secara utuh seluruh rangkaian tindakan medis sebelum pasien meninggal dunia.

Penyebab Kematian Masih Perlu Dipastikan

Dalam narasi unggahan, pasien disebut dijadwalkan menerima suntikan pereda nyeri lambung sekitar pukul 17.00 WIB. Akan tetapi, informasi mengenai nama obat, dosis, kondisi klinis pasien sebelum penyuntikan, serta tindakan yang dilakukan setelah muncul gejala belum terungkap secara lengkap.

Karena itu, dugaan keluarga mengenai kemungkinan kesalahan pemberian obat atau dosis masih perlu ditelusuri melalui pemeriksaan medis dan penelaahan rekam medis. Belum ada dasar yang cukup untuk memastikan bahwa suntikan tersebut menjadi penyebab langsung kematian pasien.

Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari manajemen RS BHC Sumenep mengenai kronologi kejadian, jenis obat yang diberikan, maupun penyebab pasti meninggalnya pasien.

Keterangan resmi dari pihak rumah sakit penting untuk menjawab pertanyaan keluarga sekaligus memberikan gambaran yang berimbang kepada masyarakat. Penelusuran juga perlu mencakup penjelasan tenaga kesehatan yang terlibat serta pemeriksaan oleh pihak berwenang apabila diperlukan.

Peristiwa ini menyisakan sejumlah pertanyaan yang membutuhkan jawaban berbasis fakta, mulai dari prosedur pemberian obat hingga respons petugas ketika kondisi pasien mengalami perubahan.

Kejelasan kronologi dan hasil pemeriksaan yang objektif diharapkan dapat memberikan kepastian bagi keluarga serta memastikan apakah penanganan pasien telah sesuai dengan standar pelayanan medis yang berlaku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan 160x600

Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa