Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa

Iklan 160x600

Sumbang 38,44 Persen Ekonomi Sumenep, DKPP Genjot Produktivitas dan Hilirisasi Pertanian

SUMENEP | Detakindo.com – Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Kontribusinya yang mencapai 38,44 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto

Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, saat mendorong peningkatan produktivitas dan pengembangan hilirisasi sektor pertanian.

SUMENEP | Detakindo.com – Sektor pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Kontribusinya yang mencapai 38,44 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menjadikan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai salah satu penopang utama aktivitas ekonomi masyarakat.

Besarnya kontribusi tersebut mendorong Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep untuk terus memperkuat produktivitas pertanian sekaligus mengembangkan hilirisasi komoditas lokal. Langkah ini diarahkan agar hasil pertanian tidak hanya meningkat dari sisi kuantitas, tetapi juga memiliki nilai tambah yang berdampak langsung terhadap pendapatan dan kesejahteraan petani.

Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, menegaskan bahwa sektor pertanian memiliki posisi strategis dalam pembangunan daerah karena menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat.

“Pertanian menjadi salah satu sektor prioritas pemerintah. Dengan pertanian, pendapatan masyarakat bisa meningkat karena sektor ini bersentuhan langsung dengan petani,” kata Chainur.

Menurutnya, pengembangan pertanian tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi. Penguatan pengolahan hasil panen dan perluasan akses pemasaran juga harus menjadi perhatian agar komoditas lokal mampu memberikan nilai ekonomi lebih besar.

“Karena itu, kami tidak hanya melihat keberhasilan pertanian dari seberapa besar hasil produksinya. Bagaimana hasil tersebut bisa memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan petani juga menjadi bagian penting dalam pengembangan sektor pertanian,” ujarnya.

Dari sektor tanaman pangan, perkembangan produksi beras di Sumenep menunjukkan tren peningkatan. Berdasarkan data pertanian, produksi beras selama Januari-November 2026 mencapai 113.362 ton. Angka tersebut meningkat 3.985 ton atau 3,64 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 109.377 ton.

Peningkatan produksi tersebut turut didukung oleh perluasan Luas Tambah Tanam (LTT). Selama periode Oktober 2025 hingga September 2026, LTT tercatat mencapai 33.414 hektare atau bertambah sekitar 1.972 hektare dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, luas panen pada Januari-November 2026 mencapai 37.311 hektare, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 35.770 hektare. Adapun produksi Gabah Kering Giling (GKG) tercatat mencapai 196.324 ton.

Chainur menyebut capaian tersebut menjadi salah satu indikator perkembangan sektor tanaman pangan di Sumenep. Ke depan, optimalisasi lahan pertanian dan penguatan luas tanam akan terus didorong untuk menjaga keberlanjutan produksi.

“Data produksi dan luas tanam menjadi salah satu indikator penting untuk melihat perkembangan pertanian. Kami terus mendorong agar potensi lahan yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga produktivitas tanaman pangan tetap terjaga,” jelasnya.

Tak hanya tanaman pangan, DKPP Sumenep juga memberikan perhatian terhadap sektor perkebunan, khususnya tembakau yang selama ini menjadi salah satu komoditas unggulan daerah.

Pada 2026, luas tanam tembakau di Kabupaten Sumenep diperkirakan mencapai sekitar 12 ribu hektare. Komoditas ini memiliki nilai ekonomi penting, terutama bagi masyarakat dan petani di wilayah sentra penghasil tembakau.

Chainur menjelaskan, pengembangan komoditas unggulan harus mempertimbangkan karakteristik wilayah, kebutuhan petani, serta peluang pasar. Dengan demikian, program pengembangan pertanian dapat lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

“Setiap komoditas memiliki potensi dan karakteristik tersendiri. Karena itu, pengembangannya harus disesuaikan dengan kondisi wilayah, kebutuhan petani, serta peluang pasarnya. Harapannya, sektor pertanian Sumenep semakin produktif dan mampu memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian daerah,” pungkasnya.

Dengan kontribusi mencapai 38,44 persen terhadap perekonomian daerah, penguatan sektor pertanian menjadi salah satu agenda penting pembangunan Sumenep. Tantangannya bukan hanya mempertahankan capaian produksi, tetapi juga memastikan hasil pertanian mampu diolah, dipasarkan, dan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi para petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan 160x600

Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa