SUMENEP | Detakaindo.com – 12 Agustus 2026, Kotoran hewan (kohe) tak harus berakhir sebagai limbah yang mengganggu lingkungan. Di tangan inovasi, bahan yang selama ini dianggap sebagai persoalan justru dapat berubah menjadi produk pertanian bernilai ekonomi.
Gagasan itulah yang tengah didorong Universitas Bahaudin Mudhary (UNIBA) Madura melalui pengembangan teknologi tepat guna berbasis potensi lokal. Upaya tersebut dibahas dalam pertemuan dan diskusi antara tim UNIBA Madura dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep.
Pembahasan tidak berhenti pada persoalan bagaimana mengolah limbah, tetapi diarahkan pada pertanyaan yang lebih besar: bagaimana potensi lokal dapat diolah, dikembangkan, dan menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
Salah satu gagasan yang menjadi fokus adalah pemanfaatan limbah peternakan untuk menghasilkan biokompos dan pupuk organik cair (POC). Inovasi ini dinilai memiliki peluang untuk mempertemukan dua sektor sekaligus, yakni peternakan dan pertanian.
Kohe yang selama ini cenderung dipandang sebagai produk sisa dari aktivitas peternakan dapat ditempatkan sebagai bahan baku yang memiliki nilai guna. Melalui proses pengolahan yang tepat, limbah tersebut berpotensi dimanfaatkan kembali untuk mendukung kebutuhan pertanian sekaligus mengurangi persoalan lingkungan.
Dari Limbah Menjadi Nilai Tambah
Semangat yang dibawa UNIBA Madura dalam gagasan tersebut sejalan dengan arah hilirisasi, yakni mendorong potensi dan hasil sumber daya agar tidak berhenti pada bentuk bahan mentah, tetapi berkembang menjadi produk yang memberikan manfaat lebih besar.
Pendekatan itu menjadi semakin relevan bagi daerah yang memiliki potensi sektor peternakan dan pertanian. Dengan dukungan teknologi tepat guna, sumber daya yang tersedia di masyarakat dapat dikembangkan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal.
Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan perangkat teknis menjadi penting. Perguruan tinggi dapat berperan melalui riset dan inovasi, sementara pemerintah daerah memiliki peran dalam membuka ruang implementasi agar inovasi tersebut dapat benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pertemuan tersebut dihadiri Sekretaris BRIDA Sumenep, perwakilan Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup, serta sejumlah staf BRIDA. Kepala BRIDA Sumenep, Bintoro, turut hadir dan memberikan perhatian terhadap gagasan pengembangan inovasi yang memanfaatkan sumber daya lokal.
Sementara dari pihak UNIBA Madura hadir Dr. (C) Budyi Suswanto, MT, Dr. Bambang Sugiyono Agus Purwono, MSc, Novi Wahyuningtyas, MT, Siti Umyana, MM, Alief, SKom, Ir. Awiyanto, MM, dan Deni.
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun jembatan antara riset kampus dan kebutuhan pembangunan daerah. Harapannya, inovasi yang lahir dari lingkungan akademik tidak berhenti sebagai gagasan atau penelitian, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang aplikatif.
Jika pengolahan kohe dapat dikembangkan secara berkelanjutan, manfaatnya pun berlapis: lingkungan lebih terkelola, peternak memiliki alternatif pemanfaatan limbah, sektor pertanian memperoleh sumber bahan organik, dan masyarakat berpeluang mendapatkan nilai ekonomi baru.
UNIBA Madura ingin menunjukkan bahwa hilirisasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit. Terkadang, inovasi justru berawal dari sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat—bahkan dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah.






