Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa

Iklan 160x600

Jurnalisme Bajakan: Dari Verifikasi ke Kanibalisasi

Oleh: Aldi Hidayat Latar Sistemik Apa jadinya jika jurnalisme tidak lagi berbasis verifikasi tetapi komodifikasi? Digitalisasi memudahkan manusia mengakses informasi namun harus membayarnya dengan ongkos

Oleh: Aldi Hidayat

Latar Sistemik

Apa jadinya jika jurnalisme tidak lagi berbasis verifikasi tetapi komodifikasi? Digitalisasi memudahkan manusia mengakses informasi namun harus membayarnya dengan ongkos eksistensial; mempertaruhkan kualitas demi viralitas, kualifikasi demi sensasi, verifikasi demi komodifikasi, bungkus demi isi; mencipta tatanan baru yang banal karena kredibelitas tidak lagi esensial. Tatanan yang mendegradasi efisiensi sebagai term positif menjadi asal jadi sehingga tidak jelas mana efisiensi dan mana banalisasi. Digital tidak bekerja layaknya etalase tetapi bak narkoba. Ia tidak hanya menayangkan apa saja tapi aktif memanjakan selera dengan terus menghidangkan apa yang diinginkan pengguna. Keaktifannya dalam memanjakan selera pengguna adalah apa yang disebut dengan algoritma.

Algoritma adalah prosedur berkode yang mentransformasi input data menjadi konten yang diinginkan berdasarkan kalkulasi spesifik (Dalen, 2023, p. 1). Sekilas tampak sederhana tetapi secara lebih jauh, algoritma sudah menggantikan manusia sebagai penjaga gerbang warta. Sebelum era digital, warta masih sepenuhnya dikendalikan manusia mulai dari terjun ke lapangan, observasi, wawancara, verifikasi, dokumentasi hingga penyajiannya sebagai berita di hadapan pembaca. Memasuki era digital, peran itu mengalami pergeseran radikal karena algoritma tidak bekerja berdasarkan logika verifikasi melainkan komodifikasi. Lebih lanjut, bersanding dengan algoritma sebagai aturan main, platform merupakan infrastruktur digital yang menjalankannya. Platform selaku entitas bisnis kapitalis umumnya dimonopoli oleh tiga; Google, Meta dan Tiktok. Pertanyaannya, bagaimana cara kerja kapitalis ini membahayakan dunia jurnalisme?

Ketika Mesin Menggantikan Manusia

Platform dan algoritma bukan etalase melainkan narkoba. Sebagaimana narkoba membawa candu dan bahaya, begitu pula dengan keduanya. Dalam hal ini, akan penulis batasi pada bagaimana platform bekerja. Platform merupakan entitas kapitalis berskala dunia yang menjadikan algoritma sebagai kendara. Bagaimana cara kerjanya? Nadja Schaetz dkk menyebutkan tiga cara kerja plaformisasi berita (proses di mana plaform menjadi infrastruktur digital sentral bagi masyarakat yang berdampak secara luas pada multisektor kehidupan seperti ekonomi, politik dan budaya) (Emmer, 2023, p. 3).

Pertama, datafikasi ialah proses koleksi dan analisis atas data audien sehingga kebutuhan dan preferensi audien dapat dipelajari sedemikian rupa untuk mendapatkan pelayanan lebih baik dari sebelumnya. Datafikasi ialah proses memperlakukan audien sebagai konsumen sekaligus SDA untuk industri informasi. Topik, pola ketik, konten yang diklik merupakan proses plaform mendatafikasi selera pengguna. Semua itu kemudian diangkut menuju proses berikutnya. Kedua, komodifikasi yaitu menjual konten pilihan audien berdasarkan waktu yang dihabiskan kepada pengiklan. Pengiklan nantinya membuat dan menjual produk sejalur dengan preferensi audien. Kelanjutannya ialah ketiga, seleksi yaitu algoritma menentukan dan menyajikan konten-konten yang yang sejalan dengan konten pilihan sebelumnya. Demikian ini terus berlanjut memancing perhatian dan memenjarakan fokus audien pada konten-konten yang sejalan dengan preferensinya. Artinya, platform memerangkap audien dalam simulacra; keburaman antara kebutuhan asli dan semu. Itulah mengapa di era platformisasi, konten-konten yang mengolah dorongan purba manusia laku keras di pasaran; mulai dari konten yang membakar emosi hingga konten yang membangkitkan birahi. Pada saat yang sama, sistem yang berorientasi atensi ini pelan tapi pasti menabrak pilar jurnalisme.

Kredibelitas di Ambang Batas

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism menegaskan esensi jurnalisme adalah disiplin verifikasi (menguji akurasi dan adekuasi data terhadap fakta) (Rosenstiel, 2014, p. 21). Ini mengharuskan jurnalis terjun ke lapangan, mengobservasi, mewawancara dan mendokumentasi fakta. Akan tetapi, fenomena lumrah meskipun salah ialah kanibalisasi suatu media atas media lainnya. Mengapa disebut kanibalisasi? Sebab satu media berfungsi bak parasit yang menghisap kekuatan inangnya. Wartawan suatu media capek-capek terjun ke lapangan, setelah warta diterbitkan, media lain menjiplak entah secara tersurat atau tersirat warta di muka lalu dengan polesan sedemikian rupa, warta jiplakan ini menghasilkan laba bahkan lebih besar dibanding warta perdana.

Pada era platformisasi, kualitas tergantikan oleh visualitas, verifikasi digeser oleh komodifikasi, . Bukan lagi seberapa bertanggung-jawab jurnalis dalam mencari dan menghasilkan warta tetapi seberapa cepat dan cekatan menghasilkannya. Bukan lagi seberapa berkualitas suatu berita tetapi seberapa mempesona. Maka sangat mungkin media yang tidak cukup lihai merangkai kata dan visualisasinya terkalahkan oleh media lain yang handal tentangnya. Persoalannya bukan sebatas laba melainkan etos media dalam mematuhi kode etik jurnalistime. Tindakan demikian memang melanggar norma hak cipta. Namun yang hendak penulis soroti sekarang bukan sekadar kode etiknya melainkan nasib jurnalisme ke depannya.

Jika praktek kanibalisasi jurnalistik terus berlanjut, maka disiplin verifikasi sebagai esensi jurnalisme akan meredup. Jika jurnalisme kehilangan esensinya, maka warta macam apa yang akan manusia baca? Sampai kapan harus ada dusta di antara kita eh di dalam warta? Aspirasi dari tulisan ini adalah bagaimana memperjelas batas dan kode etik praktek tiru-meniru warta dalam jurnalisme? Penulis tidak bermaksud memukul rata segala tiruan dalam jurnalisme sebagai kesalahan tetapi mewaspadakan bahaya tiadanya kejelasan dan ketegasan terhadap praktek jurnalisme bajakan. Sekian.

Pustaka

Dalen, A. van. (2023). Algorithmic Gatekeeping for Professional Communicators: Power, Trust, and Legitimacy. Routledge.

Emmer, N. S., Emilija Gagrcin, Roland Toth dan Martin. (2023). Algorithm Dependency in Platformized News Use. New Media & Society, 00(0).

Rosenstiel, B. K. dan T. (2014). The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect. Three Rivers Press.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan 160x600

Detakindo.com

Mendetak Fakta, Menyuarakan Bangsa