
SUMENEP Detakindo.com – Momentum Wisuda ke-XXVIII Universitas Annuqayah (UA) tahun 2026 menjadi kesempatan untuk kembali meneguhkan nilai-nilai keilmuan, akhlak, dan pengabdian yang diwariskan para sesepuh Pondok Pesantren Annuqayah.
Dalam sambutannya pada Rapat Senat Terbuka dan Wisuda Program Sarjana dan Magister di Auditorium As-Syarqawi, Selasa–Rabu (27–28 Oktober 2026), Kiai Muhsin Amir, anggota Dewan Masyaikh sekaligus Dewan Pengasuh Pesantren Annuqayah, menyampaikan empat pesan penting dari para sesepuh yang patut menjadi pegangan para wisudawan dalam menjalani kehidupan setelah lulus.
Keempat pesan tersebut berasal dari almarhum KH Amir Ilyas, KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad, KH Ishomuddin Abdullah Sajjad, dan KH Abdul Warits Ilyas. Pesan-pesan itu menekankan pentingnya menuntut ilmu sepanjang hayat, memahami agama, menjaga akhlak, serta mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Terus Menuntut Ilmu dan Mengajarkannya
Pesan pertama disampaikan oleh KH Amir Ilyas kepada putranya, Kiai Muhsin Amir, ketika hendak melanjutkan pendidikan ke UIN Sunan Ampel Surabaya.
“Nak, cari ilmu terus. Jangan bosan dan ajarkan terus,” demikian pesan yang disampaikan KH Amir Ilyas.
Menurut Kiai Muhsin, pesan sederhana tersebut memiliki makna mendalam. Menuntut ilmu bukanlah proses yang dapat diselesaikan dalam waktu singkat, melainkan membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan istiqamah.
Ia mengingatkan bahwa gelar akademik yang diperoleh para wisudawan tidak boleh membuat mereka merasa cukup dengan ilmu yang telah dipelajari.
Sebaliknya, kelulusan harus menjadi awal untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan mengembangkan kemampuan. Ilmu juga tidak cukup hanya dikuasai atau dihafalkan, tetapi harus diamalkan dan diajarkan agar memberikan manfaat bagi orang lain.
“Tidak ada artinya apa-apa titel yang kalian peroleh kalau kalian merasa cukup dengan ilmu yang diperoleh pada hari ini,” tegasnya.
Memahami Agama sebagai Jalan Kebaikan
Pesan kedua berasal dari KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad, yang menekankan pentingnya memahami ajaran agama secara mendalam.
Kiai Muhsin mengutip hadis Rasulullah SAW yang menjelaskan bahwa seseorang yang dikehendaki memperoleh kebaikan oleh Allah SWT akan diberikan pemahaman dalam agama.
Menurutnya, pemahaman agama tidak semata-mata berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga kemampuan menjalankan ajaran Islam secara benar dalam kehidupan sehari-hari.
Orang yang memahami agama diharapkan lebih berhati-hati dalam bertindak, mampu membedakan perkara yang baik dan buruk, serta menjaga hubungan dengan sesama manusia.
Selain itu, KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad juga menekankan pentingnya memperbanyak zikir, khususnya membaca kalimat la ilaha illallah.
Kiai Muhsin menceritakan bahwa KH Ahmad Basyir pernah mengungkapkan kebiasaannya membaca kalimat tahlil sebanyak 1.000 kali setiap malam sebagai amalan pribadi.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan di lingkungan pesantren tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu, tetapi juga pembentukan kebiasaan beribadah dan kedekatan kepada Allah SWT.
Menjaga Akhlak dan Kehati-hatian dalam Beramal
Pesan ketiga disampaikan oleh KH Ishomuddin Abdullah Sajjad. Kiai Muhsin mengaku tidak banyak mendengar langsung nasihat beliau, tetapi mengingat pesan-pesan yang berkaitan dengan akhlakul karimah, kehati-hatian dalam beribadah, serta menjaga pergaulan dengan sesama manusia.
Pesan tersebut juga menegaskan pentingnya thalabul ilmi, yakni menuntut ilmu sepanjang hayat.
Bagi para wisudawan, nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting ketika memasuki kehidupan bermasyarakat. Kecerdasan intelektual perlu berjalan beriringan dengan akhlak yang baik, sikap rendah hati, serta kehati-hatian dalam mengambil keputusan.
Dengan demikian, keberhasilan seorang sarjana tidak hanya diukur dari pencapaian akademik, tetapi juga dari perilaku dan kontribusinya di tengah masyarakat.
Kuasai Ilmu Agama dan Umum, Utamakan Pengamalan
Pesan keempat berasal dari KH Abdul Warits Ilyas. Dalam perbincangannya dengan Kiai Muhsin, beliau menekankan pentingnya mempelajari berbagai bidang ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu umum.
KH Abdul Warits juga mengingatkan agar tradisi keilmuan yang telah diwariskan para kiai Annuqayah tetap dipelihara, termasuk pembelajaran kitab kuning atau kitab turats.
Menurut pesan tersebut, banyaknya materi pembelajaran bukan alasan untuk menghilangkan bidang ilmu tertentu hanya karena dianggap kurang disukai. Seluruh warisan keilmuan perlu dipelajari dan dikembangkan, dengan tetap memperhatikan relevansinya dalam kehidupan.
Namun, ukuran utama seseorang bukanlah seberapa banyak ilmu yang dikuasai atau seberapa tinggi tingkat kecerdasannya, melainkan sejauh mana ilmu tersebut diamalkan.
Pesan ini sekaligus menegaskan bahwa ilmu agama dan ilmu umum tidak seharusnya dipertentangkan. Keduanya perlu dipelajari agar seseorang mampu memahami kehidupan secara utuh dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Wisudawan Diminta Menjadi Sarjana Berakhlak dan Bermanfaat
Menutup sambutannya, Kiai Muhsin Amir berpesan agar para wisudawan terus mempelajari ilmu agama dan ilmu umum, sekaligus memahami nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
Ia menekankan pentingnya memahami akidah, syariah, serta aturan dan tradisi masyarakat sebagai bagian dari bekal menjalani kehidupan sosial.
Menurutnya, pemahaman agama merupakan salah satu landasan untuk memperoleh kebaikan dari Allah SWT sekaligus membentuk pribadi yang mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan baik.
Kiai Muhsin juga mengingatkan para lulusan agar menjadikan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah sebagai prinsip dalam beribadah dan bermuamalah.
“Jadilah sarjana yang berpikir cerdas, berhati tulus, dan bertindak lurus. Selalu berprinsip hidup dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah dalam beribadah dan bermuamalah,” pungkasnya.
Empat pesan sesepuh Annuqayah tersebut menjadi pengingat bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan menuntut ilmu. Lebih dari sekadar meraih gelar akademik, para lulusan diharapkan mampu menjaga tradisi keilmuan, membangun akhlak mulia, dan mengamalkan pengetahuan demi kemaslahatan masyarakat.







