
Oleh: Kader_komodo
Setiap tanggal 28 Oktober, kita kembali merayakan Sumpah Pemuda. Bendera dikibarkan, upacara digelar, pidato disampaikan dengan suara lantang. Kalimat-kalimat tentang idealisme, persatuan, dan masa depan bangsa kembali terdengar nyaring: pemuda adalah harapan bangsa, pemuda adalah tulang punggung negara.
Namun, setelah semua seremoni itu usai, sebuah pertanyaan penting layak diajukan: benarkah hari ini kaum muda diberi ruang untuk menjadi harapan bangsa, atau justru sedang dipaksa menjadi generasi yang patuh, diam, dan kehilangan keberanian?
Pertanyaan ini mungkin terasa pahit. Namun, dalam momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98, kita tidak membutuhkan pujian yang sekadar menyenangkan telinga. Kita membutuhkan kejujuran untuk melihat kenyataan.
Sebab, di balik slogan tentang pemuda sebagai agen perubahan, ada persoalan yang tidak boleh diabaikan: sebagian kaum muda perlahan kehilangan kemerdekaan berpikir, ruang untuk berperan, dan keberanian untuk bersikap.
Inilah yang saya sebut sebagai pengkebirian kaum muda.
Bukan pengkebirian secara fisik, melainkan upaya—baik melalui tekanan sosial, budaya patronase, maupun kepentingan kekuasaan—yang membuat anak muda kehilangan daya kritis dan keberanian untuk menentukan sikapnya sendiri.
Pertama, Ketika Pikiran Kritis Dianggap Ancaman
Kaum muda hari ini tidak kekurangan orang cerdas. Banyak yang mengenyam pendidikan tinggi, memiliki gelar akademik, menguasai teknologi, dan mampu melahirkan gagasan-gagasan besar. Namun, kecerdasan tidak selalu berbanding lurus dengan keberanian.
Di ruang kuliah, mahasiswa diajarkan tentang demokrasi, keadilan, kebebasan berpikir, dan pentingnya mengkritik ketimpangan. Mereka diperkenalkan pada idealisme dan didorong untuk menjadi bagian dari perubahan.
Akan tetapi, ketika kembali ke lingkungan sosialnya, sebagian justru berhadapan dengan pesan yang bertolak belakang: jangan terlalu kritis, jangan berbeda pendapat, jangan menentang orang yang berkuasa, dan jangan mempertanyakan sesuatu yang sudah dianggap biasa.
Akibatnya, keberanian berpikir perlahan digantikan oleh kecemasan. Kritik dianggap pembangkangan. Perbedaan pendapat dipandang sebagai permusuhan. Sementara sikap diam sering kali diberi penghargaan sebagai bentuk kesopanan dan loyalitas.
Kita patut bertanya: untuk apa pendidikan tinggi jika pada akhirnya hanya melahirkan orang-orang yang takut menggunakan pikirannya sendiri?
Ijazah boleh tinggi, tetapi jika keberanian berpikir harus tunduk pada kepentingan, maka pendidikan kehilangan sebagian ruhnya. Ilmu yang seharusnya membebaskan justru berakhir menjadi hiasan, sementara nalar kritis dikorbankan demi rasa aman.
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang mengkhawatirkan adalah ketika orang pintar memilih diam karena takut kehilangan kenyamanan.
Kedua, Ketika Peran Pemuda Dibatasi oleh Kepentingan
Sejarah menempatkan kaum muda sebagai penggerak perubahan. Mereka hadir dalam gerakan sosial, pendidikan, kebudayaan, dan berbagai perjuangan yang menuntut kehidupan lebih adil.
Namun, idealisme itu tidak akan tumbuh jika ruang partisipasi hanya dibuka untuk mereka yang sejalan dengan kepentingan kelompok tertentu.
Ketika seorang pemuda menawarkan gagasan baru, ia dicap terlalu idealis. Ketika ia menginisiasi gerakan, ia dituduh mencari panggung. Ketika ia mengkritik kebijakan dengan argumentasi dan data, ia justru dianggap sebagai ancaman.
Sebaliknya, mereka yang pandai menyenangkan telinga penguasa terkadang lebih mudah memperoleh tempat daripada mereka yang berani menyampaikan kenyataan.
Jika situasi semacam ini dibiarkan, ruang bagi kaum muda akan berubah menjadi ruang kepatuhan. Mereka boleh hadir, tetapi tidak benar-benar dilibatkan. Mereka boleh berbicara, tetapi hanya selama ucapannya tidak mengganggu kenyamanan pihak tertentu.
Inilah paradoks yang harus kita lawan: kaum muda terus disebut sebagai agen perubahan, tetapi ketika hendak melakukan perubahan, mereka justru diminta untuk tidak membuat kegaduhan.
Padahal, perubahan tidak selalu lahir dari suasana yang nyaman. Terkadang, ia dimulai dari pertanyaan yang mengusik, kritik yang menyentak, dan keberanian untuk menolak sesuatu yang dianggap lumrah meskipun tidak adil.
Yang lebih menyedihkan, ketika ruang untuk berkembang terus menyempit, sebagian pemuda akhirnya memilih menarik diri. Ada yang berhenti bersuara, ada yang kehilangan kepedulian, dan ada pula yang memilih pergi karena merasa kampung halamannya tidak lagi menyediakan ruang bagi gagasan dan potensinya.
Mereka mungkin masih tinggal di tengah masyarakat, tetapi peran sosialnya perlahan menghilang.
Jangan hanya meminta pemuda membangun daerah jika setiap gagasan mereka dicurigai dan setiap kritik mereka diperlakukan sebagai ancaman.
Ketiga, Ketika Keberanian Ditukar dengan Kenyamanan
Inilah bentuk pengkebirian yang paling berbahaya: ketika tekanan dari luar tidak lagi diperlukan karena seseorang sudah belajar membungkam dirinya sendiri.
Pada awalnya, seorang pemuda mungkin berani mengkritik ketidakadilan. Ia lantang berbicara tentang perubahan, membela masyarakat kecil, dan menolak penyalahgunaan kekuasaan. Namun, seiring waktu, keberanian itu bisa terkikis ketika berhadapan dengan tawaran kedekatan, jabatan, proyek, keuntungan pribadi, atau kenyamanan sesaat.
Tidak semua kedekatan dengan kekuasaan merupakan kesalahan. Tidak semua orang yang bergabung dengan pemerintahan kehilangan idealismenya. Namun, persoalan muncul ketika kedekatan tersebut membuat seseorang berhenti berpikir kritis, membenarkan segala tindakan, dan mengorbankan kepentingan publik demi keuntungan pribadi.
Di titik itulah idealisme berubah menjadi slogan, sementara keberanian hanya menjadi kenangan masa lalu.
Ada pemuda yang dahulu lantang mengkritik, tetapi kemudian memilih diam ketika orang-orang terdekatnya memegang kekuasaan. Ada yang dahulu berbicara tentang keberpihakan kepada rakyat, tetapi perlahan lebih sibuk menjaga hubungan dengan mereka yang memiliki akses dan pengaruh.
Kritik yang dahulu dianggap sebagai kewajiban moral, kini diperlakukan sebagai risiko yang harus dihindari.
Lebih menyedihkan lagi ketika sikap diam itu dibungkus dengan berbagai alasan: menjaga hubungan baik, menghindari konflik, menunggu waktu yang tepat, atau merasa belum pantas untuk bersuara.
Tentu, kebijaksanaan tidak sama dengan ketakutan. Tidak semua persoalan harus dihadapi dengan teriakan. Kritik pun harus disampaikan dengan data, etika, dan tanggung jawab.
Namun, jangan sampai bahasa tentang kesantunan hanya menjadi kedok untuk membenarkan kepengecutan. Jangan sampai alasan menjaga hubungan baik justru digunakan untuk menutupi ketidakadilan.
Kaum muda tidak harus selalu melawan, tetapi mereka tidak boleh kehilangan keberanian untuk mengatakan bahwa yang salah tetaplah salah, sekalipun dilakukan oleh orang yang dekat dengannya.
Sebab, ketika keberanian bisa dibeli dengan jabatan, dibungkam oleh proyek, atau ditukar dengan kenyamanan, yang hilang bukan hanya idealisme seseorang. Yang dipertaruhkan adalah masa depan gerakan sosial dan kualitas kehidupan demokrasi.
Lalu, Apa Arti Sumpah Pemuda Hari Ini?
Kita perlu kembali menengok sejarah 1928. Sumpah Pemuda bukan lahir dari generasi yang sekadar menunggu keadaan berubah. Ia lahir dari keberanian kaum muda untuk melampaui sekat-sekat kedaerahan dan menyatakan identitas bersama di tengah situasi kolonial.
Mereka menyatukan tekad tentang tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Mereka menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk terpecah, dan bahwa masa depan bersama membutuhkan keberanian untuk mengambil sikap.
Tentu, keadaan hari ini berbeda dengan 1928. Kita tidak sedang menghadapi kolonialisme dalam bentuk yang sama. Namun, semangat dasarnya tetap relevan: kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai bebas dari penjajahan, tetapi juga harus tercermin dalam kemampuan berpikir, menyampaikan pendapat, berorganisasi, dan berpartisipasi tanpa intimidasi.
Karena itu, memperingati Sumpah Pemuda tidak cukup hanya dengan mengenakan pakaian adat, mengikuti upacara, menggelar seminar, atau menyampaikan pidato penuh pujian terhadap generasi muda.
Semua itu dapat menjadi bagian dari peringatan. Namun, tanpa keberanian memperjuangkan ruang bagi anak muda, peringatan tersebut berisiko kehilangan makna substantifnya.
Apa artinya mengagungkan pemuda 1928 jika pemuda hari ini justru diminta diam ketika melihat ketidakadilan?
Apa artinya berbicara tentang persatuan jika perbedaan pendapat terus dicurigai?
Apa artinya menyebut pemuda sebagai agen perubahan jika gagasan mereka hanya diterima selama tidak mengganggu kepentingan pihak yang berkuasa?
Dan apa artinya merayakan kemerdekaan jika masih ada anak muda yang merasa harus mengorbankan suara dan prinsipnya demi memperoleh tempat?
Pertanyaan-pertanyaan itu seharusnya tidak membuat kita alergi. Justru dari pertanyaan yang jujur, kita dapat memeriksa kembali apakah semangat Sumpah Pemuda benar-benar hidup dalam praktik sosial kita.
Saatnya Melawan Pengkebirian
Tulisan ini bukan untuk menghakimi seluruh kaum muda. Masih banyak anak muda yang bekerja dengan tulus, membangun gerakan sosial, mengembangkan pendidikan, merawat lingkungan, membantu masyarakat, dan memperjuangkan keadilan tanpa banyak sorotan.
Mereka membuktikan bahwa idealisme tidak pernah benar-benar mati. Namun, idealisme itu membutuhkan keberanian, konsistensi, dan lingkungan yang memberi ruang untuk tumbuh.
Karena itu, pesan ini terutama ditujukan kepada kita sendiri: para mahasiswa, pelajar, sarjana, aktivis, dan seluruh generasi muda.
Jangan biarkan pikiran kalian dikebiri oleh rasa takut.
Jangan biarkan peran kalian dikebiri oleh sistem yang menutup ruang partisipasi.
Jangan biarkan keberanian kalian dikebiri oleh kepentingan pribadi.
Jangan pula menjadikan kritik sebagai alat untuk mencari popularitas. Beranilah bersikap, tetapi tetap berpijak pada fakta. Beranilah berbeda, tetapi tetap menjaga etika. Beranilah menentang ketidakadilan, tetapi jangan pernah kehilangan tanggung jawab.
Kita harus memahami bahwa hidup tidak selalu tentang kepentingan pribadi. Membantu tidak selalu harus berujung keuntungan. Mengabdi tidak harus menunggu jabatan. Dan berjuang untuk masyarakat tidak semestinya bergantung pada siapa yang sedang berkuasa.
Tidak semua hal harus diperjualbelikan. Tidak semua hubungan harus dihitung sebagai peluang. Ada prinsip yang memang harus dijaga, bahkan ketika mempertahankannya membuat kita kehilangan kenyamanan.
Kepada siapa pun yang sedang memegang kekuasaan, berilah kaum muda ruang untuk tumbuh, bukan sekadar ruang untuk bertepuk tangan. Dengarkan kritik mereka tanpa buru-buru memberi cap buruk. Libatkan mereka dalam pengambilan keputusan, bukan hanya ketika membutuhkan dukungan atau legitimasi.
Sebab, pemuda bukan dekorasi pembangunan. Mereka bukan pelengkap seremoni. Mereka adalah warga negara yang memiliki hak, pikiran, dan tanggung jawab untuk ikut menentukan arah masa depan.
Dan kepada kaum muda, jangan menunggu semua ruang dibukakan. Bangunlah ruang itu bersama-sama. Perkuat pengetahuan, satukan gerakan, rawat solidaritas, dan pastikan bahwa setiap kritik memiliki dasar yang kuat serta keberpihakan yang jelas kepada kepentingan publik.
Penutup: Merdeka dari Rasa Takut
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan Sumpah Pemuda bukanlah seberapa meriah peringatannya, melainkan seberapa jauh semangatnya hidup dalam tindakan generasi hari ini.
Bangsa ini tidak membutuhkan generasi muda yang hanya pandai mengulang slogan. Bangsa ini membutuhkan kaum muda yang mampu berpikir mandiri, mengambil peran, menjaga integritas, dan berani menyampaikan kebenaran tanpa harus kehilangan akal sehat maupun tanggung jawab.
Sebab, pemuda yang kehilangan keberanian akan mudah diarahkan oleh kepentingan. Pemuda yang kehilangan daya kritis akan mudah menerima ketidakadilan sebagai kewajaran. Dan pemuda yang kehilangan idealisme akan kesulitan membedakan pengabdian dari sekadar pencarian keuntungan.
Maka, pada Hari Sumpah Pemuda ke-98 ini, mari kita berhenti sejenak dari seremoni dan mulai memeriksa diri sendiri.
Apakah kita masih berani berpikir berbeda?
Apakah kita masih bersedia berdiri bersama mereka yang diperlakukan tidak adil?
Apakah kita masih mampu berkata benar ketika kebenaran itu tidak menguntungkan kita?
Jika jawabannya mulai samar, mungkin yang perlu kita perbaiki bukan sekadar cara memperingati Sumpah Pemuda, melainkan cara kita memaknai keberanian itu sendiri.
Jangan biarkan masa depan bangsa ditentukan oleh generasi yang hanya pandai menyenangkan kekuasaan. Jangan biarkan idealisme menjadi barang kenangan setelah jabatan dan kepentingan datang menghampiri.
Karena menghormati pemuda 1928 bukan sekadar mengingat sumpah yang mereka ucapkan, melainkan meneruskan keberanian yang mereka wariskan.
Hari ini, tugas kita bukan menjadi pemuda yang paling keras berteriak, melainkan menjadi pemuda yang paling teguh menjaga prinsip.
Merdeka pikirannya. Merdeka perannya. Merdeka keberaniannya.
Sebab, kemerdekaan sebuah bangsa akan kehilangan makna apabila generasi mudanya tidak lagi merdeka untuk berpikir dan bersuara.
Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-98.
Saatnya menolak pengkebirian. Saatnya kembali memerdekakan pikiran, peran, dan keberanian kaum muda.







