
JAKARTA – Generasi muda memiliki peran strategis dalam menentukan arah masa depan bangsa. Menjelang Indonesia Emas 2045, pemuda didorong tidak hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi tampil sebagai pelaku perubahan melalui karya nyata, peningkatan kompetensi, serta kolaborasi lintas generasi.
Pesan tersebut mengemuka dalam Dialog Nasional Untuk Negeri yang digelar Swarna Dwipa Institute di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya No. 106, Kwitang, Senen, Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Mengusung tema “Menuju 1 Abad Sumpah Pemuda Indonesia: Pemikiran, Semangat, Implementasi Menuju Indonesia Emas”, kegiatan ini menghadirkan anggota DPR RI sekaligus Ketua Umum BM PAN, H. Slamet Ariyadi, serta pengamat Swarna Dwipa Institute (SDI), Febby Lintang, sebagai narasumber.
Forum tersebut juga dihadiri Wakil Menteri HAM RI Mugiyanto Sipin, akademisi Prof. Franz Magnis Suseno, Warsito Ellwein, Ulung Rusman, serta puluhan aktivis 1998. Pertemuan ini menjadi ruang dialog antargenerasi untuk membahas tantangan persatuan dan masa depan pembangunan Indonesia.
Dalam pemaparannya, Slamet Ariyadi menyampaikan apresiasi atas pemilihan Museum Sumpah Pemuda sebagai lokasi dialog nasional. Menurutnya, museum tersebut bukan sekadar tempat menyimpan rekam jejak sejarah, melainkan simbol perjuangan generasi muda dalam membangun persatuan bangsa.
Ia mengingatkan bahwa ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 merupakan bukti bahwa perbedaan suku, agama, dan latar belakang bukan penghalang untuk membangun cita-cita bersama sebagai satu bangsa.
Slamet juga menilai kehadiran para aktivis 1998 dalam forum tersebut memiliki arti penting. Pengalaman dan perjuangan generasi terdahulu perlu dipertemukan dengan ide, kreativitas, serta energi generasi muda saat ini agar tantangan bangsa dapat dihadapi secara bersama-sama.
Lebih lanjut, Slamet menyoroti momentum bonus demografi yang diperkirakan mencapai puncaknya sekitar 2030. Ia menyebut berdasarkan survei yang disampaikannya, jumlah penduduk usia produktif diproyeksikan mencapai 69 persen.
Menurutnya, besarnya populasi usia produktif harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Tanpa kesiapan kompetensi dan kemampuan beradaptasi, bonus demografi berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal.
Ia menegaskan, pemuda harus mengambil peran lebih besar dalam pembangunan nasional, bukan sekadar menjadi penerima manfaat kebijakan pemerintah.
Slamet juga menyatakan bahwa berbagai aspirasi dan gagasan yang disampaikan dalam dialog tersebut akan menjadi perhatian di lingkungan legislatif.
Sementara itu, pengamat Swarna Dwipa Institute, Febby Lintang, menegaskan bahwa semangat Sumpah Pemuda harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Menurutnya, perjalanan menuju satu abad Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada seremoni maupun nostalgia sejarah.
Ia menilai pemikiran para pemuda pada 1928 sangat visioner. Karena itu, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan semangat tersebut dengan pendekatan yang sesuai perkembangan zaman.
Jika pemuda dahulu berjuang dengan darah dan air mata, kata Febby, maka pemuda masa kini harus membuktikan ikrarnya melalui karya, kompetensi, dan kolaborasi.
Febby juga mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud apabila generasi muda hanya menjadi penonton tanpa kontribusi nyata.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya keterlibatan perempuan muda dalam memanfaatkan bonus demografi. Pembangunan SDM unggul, menurutnya, harus memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan untuk berkembang di bidang pendidikan, kewirausahaan, maupun kepemimpinan.
Baginya, semangat Sumpah Pemuda harus menjadi semangat persatuan yang inklusif, dengan memberikan ruang bagi seluruh elemen masyarakat untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Febby menjelaskan, Swarna Dwipa Institute berupaya menjadi jembatan komunikasi dan kolaborasi antara generasi senior dengan generasi muda. Kehadiran aktivis 1998, legislator muda, akademisi, dan pengamat dalam satu forum menjadi gambaran pentingnya pertukaran pengalaman serta gagasan lintas generasi.
Ia berharap perbedaan latar belakang tidak menjadi sekat untuk membangun masa depan Indonesia.
Dengan semangat “Make Your Future Better”, dialog nasional tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai ruang bertukar pikiran, tetapi mampu melahirkan gagasan dan langkah konkret yang dapat diwujudkan oleh generasi muda.
Sebab, menuju Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang menunggu datangnya satu abad kemerdekaan, melainkan tentang sejauh mana setiap generasi mengambil tanggung jawab dan memberikan kontribusi nyata bagi masa depan bangsa.







