JOMBANG | DetakIndo.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang tidak hanya menjadi ruang konsolidasi organisasi, tetapi juga diramaikan dengan berbagai kegiatan intelektual dan diskusi kebangsaan. Salah satunya adalah Bedah Buku Kepemimpinan dan Diskusi Gerakan Islam yang digelar Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII).
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan alumni PMII dari berbagai latar belakang profesi. Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) A Muhaimin Iskandar turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut.
Buku yang menjadi bahan diskusi berjudul “Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan, Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan”, yang ditulis oleh Fathan Subchi dan sejumlah alumni PMII lainnya.
Buku tersebut menghimpun pengalaman, pemikiran, serta perjalanan para alumni PMII yang kini berkiprah di berbagai sektor kepemimpinan, politik, akademik, hingga kemasyarakatan.
Sejumlah tokoh yang berkontribusi dalam buku tersebut antara lain KH Endin AJ Soefihara, Andi Najmi Fuadi, Anggota BPK RI Fathan Subchi, Waketum MUI KH Cholil Nafis, Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Ni’am Sholeh, Komisaris PT Petrokimia Gresik Luluk Nur Hamidah, aktivis NU Firman Syah Ali, Pengasuh Ponpes Mlangi Muhammad Mustafid, serta sejumlah kontributor lainnya.
Dalam sambutannya, A Muhaimin Iskandar memberikan apresiasi kepada para penulis buku. Ia berharap kiprah dan kontribusi alumni PMII dalam membesarkan serta menjaga keberlangsungan NU ke depan semakin kuat, khususnya dalam momentum Muktamar ke-35 NU.
Soroti Masa Depan NU di Era Digital
Salah satu penulis buku, Firman Syah Ali, mengungkapkan bahwa buku tersebut tidak hanya berbicara mengenai perjalanan masa lalu, tetapi juga mencoba membaca kondisi NU saat ini sekaligus memproyeksikan masa depan organisasi.
Menurutnya, salah satu bagian yang ditulisnya membahas posisi NU dalam menghadapi perkembangan teknologi digital dan perubahan pola kehidupan masyarakat yang semakin dipengaruhi oleh data serta algoritma.
“Buku ini berisi masa lalu, masa kini dan masa depan NU. Saya kebetulan kebagian menulis tentang masa depan NU di era agama data,” ujar Firman Syah Ali.
Ia menjelaskan, gagasan mengenai era “agama data” salah satunya dipopulerkan oleh Yuval Noah Harari melalui bukunya Homo Deus. Perkembangan teknologi yang sebelumnya diprediksi kini mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
“Posisi NU bagaimana dalam rimba raya kemajuan digital algoritmik ini? Itu yang saya tulis,” katanya.
Dari Gerakan Menuju Kepemimpinan
Dalam forum tersebut, diskusi juga berkembang pada persoalan transformasi kader dan alumni PMII, terutama mengenai perubahan orientasi dari dunia pergerakan menuju kepemimpinan di berbagai sektor.
Selama ini, kiprah alumni PMII di ruang kepemimpinan dinilai cukup menonjol dalam aspek jaringan dan lobi politik. Namun, ke depan, kapasitas tersebut dinilai perlu diimbangi dengan penguatan struktur keilmuan, kompetensi, serta kepemimpinan yang lebih profesional.
Dalam kegiatan bedah buku tersebut, Prof Asrorun Ni’am Sholeh dan Luluk Nur Hamidah tampil sebagai presenter yang mewakili para penulis.
Sementara itu, Moh Afifuddin, Ketua KPU RI, dan Prof Musahadi, Rektor UIM Walisongo, hadir sebagai pembedah. Diskusi dipandu oleh Ahmad Nawardi, anggota DPD RI, selaku moderator.
Adapun tulisan Prof Asrorun Ni’am Sholeh dalam buku tersebut berjudul “Profesionalisasi Ilmu Keislaman: Mainstreaming Disiplin Keilmuan Keagamaan NU dalam Memberikan Solusi Masalah Kebangsaan.”
Sedangkan Luluk Nur Hamidah mengangkat tulisan berjudul “Ublik dan Oncor: Mbahibu dan Warisan Kepercayaan NU.”
Kegiatan bedah buku ini menjadi salah satu ruang refleksi di tengah pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Selain membicarakan perjalanan alumni PMII, forum tersebut juga mendorong lahirnya gagasan mengenai kebutuhan NU untuk memperkuat tradisi keilmuan, kapasitas kepemimpinan, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman.






