SUMENEP | DetakIndo.com – Menghadapi tekanan efisiensi anggaran daerah akibat penyesuaian regulasi fiskal nasional, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Sumenep mengambil langkah agresif. Di bawah kepemimpinan Kepala Bapenda Ferdiansyah Tetrajaya, instansi ini mematok kenaikan target Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga 10% pada tahun 2026—dua kali lipat dari tren tahun-tahun sebelumnya yang berada di angka 5%.
Langkah berani ini diambil untuk menjaga likuiditas fiskal APBD Sumenep. Berdasarkan data Bapenda, realisasi PAD Kabupaten Sumenep pada tahun 2025 berhasil menyentuh angka Rp382 miliar lebih, yang disokong oleh sektor pajak daerah dan retribusi daerah. Saat ini, capaian realisasi PAD berjalan juga telah mendekati angka 70%.
Untuk mengejar target peningkatan tersebut, Bapenda berfokus pada optimalisasi empat komponen utama PAD, yaitu pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, serta lain-lain PAD yang sah sesuai amanat UU No. 1 Tahun 2022.
Transformasi Digital dan Layanan Non-Tunai
Kunci utama pencapaian target ini terletak pada integrasi teknologi dan kemudahan pelayanan publik. Bapenda kini menerapkan sistem pembayaran serba digital (e-PBB) dan mekanisme non-tunai di seluruh lini transaksi pembayaran pajak serta retribusi.
“Prinsipnya kita ubah dari orang ketemu orang menjadi orang ketemu sistem. Jika orang bertemu orang, potensi kompromi atau percaloan itu ada. Namun dengan sistem digital, semuanya transparan dan instant,” ujar Kepala Bapenda Sumenep.
Inovasi yang dihadirkan meliputi peluncuran anjungan transaksi mandiri (ATM PBB) di pameran Bapenda, di mana wajib pajak cukup memasukkan Nomor Objek Pajak (NOP) untuk memunculkan kode QRIS dan melakukan pembayaran langsung di tempat.
Selain itu, kanal pembayaran kini diperluas tanpa terikat jarak dan waktu. Masyarakat dapat membayar PBB hingga pajak kendaraan bermotor (PKB)—hasil kerja sama Bapenda dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur—melalui berbagai metode digital seperti e-wallet (ShopeePay, GoPay), minimarket (Indomaret), mobile banking, hingga opsi layanan paylater.
Melalui otomatisasi sistem dan jangkauan layanan yang makin luas ini, Bapenda optimistis pendapatan daerah tidak hanya meningkat secara signifikan, tetapi juga akuntabel dan bersih dari praktik percaloan.













Komentar