Rokat Bhumi Ambunten Tengah Diikuti 4.000 Warga, Tradisi Gotong Royong yang Terus Menyala

Avatar

Rabu, 9 September 2026 - 12:32 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Dokumentasi kegiatan rokat bhumi Desa Ambunten Tengah (DetakIndo.com).

Dokumentasi kegiatan rokat bhumi Desa Ambunten Tengah (DetakIndo.com).

SUMENEP — Sekitar 4.000 warga Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, memadati rangkaian kegiatan Rokat Bhumi, Selasa (8/9/2026).

Tradisi yang memadukan nilai keagamaan, kebudayaan dan gotong royong tersebut berlangsung meriah. Warga dari berbagai dusun turut ambil bagian dengan membawa obor dan mengikuti rangkaian kegiatan secara bersama-sama.

Sebelum menuju lokasi utama, masyarakat dari masing-masing dusun berkumpul untuk membaca Burdah. Setelah itu, mereka berjalan kaki menuju pusat kegiatan sambil membawa obor.

Setibanya di lokasi, kegiatan dilanjutkan dengan tahlil, hafalan santri, Sholawat Qiyam, ceramah keagamaan, hingga penampilan musik tradisional tong-tong Lendhu Sagara.

Bagi masyarakat Ambunten Tengah, Rokat Bhumi bukan sekadar kegiatan budaya. Tradisi tersebut menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus mempererat tali silaturahmi dan gotong royong antarwarga.

Tradisi Besar, Dukungan Pemerintah Dipertanyakan

Di tengah antusiasme ribuan warga, muncul sorotan mengenai minimnya keterlibatan Pemerintah Kabupaten Sumenep dalam mendukung kegiatan yang mengangkat tradisi, keagamaan dan kebudayaan lokal tersebut.

Besarnya kegiatan justru banyak bertumpu pada swadaya masyarakat, guru ngaji, santri, tokoh masyarakat dan pemuda setempat.

Tokoh pemuda Desa Ambunten Tengah, Achmad Munsharif atau Ayik, menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah daerah.

Kami tidak sedang meminta pemerintah mengambil alih kegiatan masyarakat. Masyarakat sudah menunjukkan bahwa mereka mampu bergerak sendiri. Tetapi ketika sebuah tradisi mampu menggerakkan sekitar 4.000 orang, melibatkan santri, guru ngaji, pemuda dan masyarakat, tentu kami berharap pemerintah daerah hadir memberikan dukungan nyata.”

Menurut Ayik, dukungan pemerintah tidak selalu harus berupa anggaran. Pemerintah dapat hadir melalui fasilitasi, promosi kebudayaan, dukungan pelestarian tradisi, hingga memasukkan kegiatan semacam Rokat Bhumi dalam agenda pengembangan kebudayaan dan pariwisata daerah.

Kalau masyarakat hari ini mampu menjaga tradisinya dengan swadaya, pemerintah seharusnya hadir untuk memperkuat, bukan sekadar melihat dari jauh.

Ia menegaskan, kritik tersebut bukan dimaksudkan untuk menyudutkan pemerintah daerah, melainkan sebagai dorongan agar potensi budaya yang tumbuh dari masyarakat mendapat perhatian lebih serius.

Kami ingin pemerintah hadir bersama masyarakat. Ini bukan persoalan siapa yang membiayai siapa. Ini tentang bagaimana pemerintah menunjukkan keberpihakan terhadap kebudayaan lokal dan masyarakat yang selama ini menjaga tradisi dengan kemampuan sendiri.

Kekuatan Tradisi dari Masyarakat

Rokat Bhumi merupakan salah satu tradisi masyarakat Madura yang berkaitan dengan doa, rasa syukur serta harapan atas keselamatan dan keberkahan.

Pelaksanaan Rokat Bhumi di Ambunten Tengah menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu bergantung pada kegiatan berskala besar. Tradisi dapat terus hidup melalui keterlibatan masyarakat, tokoh agama, guru ngaji, santri dan generasi muda.

Hal tersebut juga terlihat dari keterlibatan para santri dalam rangkaian kegiatan. Mereka tidak hanya menjadi peserta, tetapi turut menampilkan hafalan dan mengikuti kegiatan keagamaan.

Ayik menilai keterlibatan generasi muda menjadi kunci agar tradisi tersebut tetap bertahan.

Kalau generasi muda tidak dilibatkan, tradisi akan berhenti sebagai cerita. Hari ini anak-anak muda dan santri ikut berjalan membawa obor, membaca Burdah, bersholawat dan menjaga tradisi. Itu yang harus kita rawat.”

Ia berharap Rokat Bhumi Ambunten Tengah dapat terus berkembang dan menjadi salah satu identitas budaya desa yang dikenal lebih luas.

Kami ingin Rokat Bhumi ini bukan hanya menjadi acara tahunan. Kami ingin ini menjadi identitas budaya Ambunten Tengah yang dikenal lebih luas. Masyarakat sudah memulai dan membuktikan. Sekarang tinggal bagaimana pemerintah hadir dan ikut memperkuatnya.”

Rangkaian Rokat Bhumi tahun ini menjadi gambaran bahwa tradisi masih memiliki tempat kuat di tengah masyarakat. Ribuan warga yang membawa obor seakan menjadi simbol bahwa budaya tersebut masih terus menyala dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Masyarakat pun berharap semangat gotong royong yang menjadi kekuatan utama Rokat Bhumi dapat berjalan beriringan dengan perhatian dan dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian kebudayaan lokal.

Berita Terkait

Gua Payudan Didorong Jadi Destinasi Unggulan Guluk-Guluk, Pemkab Diharapkan Turut Turun Tangan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 12:32 WIB

Rokat Bhumi Ambunten Tengah Diikuti 4.000 Warga, Tradisi Gotong Royong yang Terus Menyala

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:19 WIB

Gua Payudan Didorong Jadi Destinasi Unggulan Guluk-Guluk, Pemkab Diharapkan Turut Turun Tangan

Berita Terbaru