SUMENEP | DetakIndo.com – Di tengah ramainya klaim Partai Amanat Nasional (PAN) sebagai “partainya anak Nahdliyyin”, kritik datang dari Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Sumenep. Organisasi kepemudaan NU tersebut menilai klaim itu tidak sejalan dengan kondisi yang dialami sejumlah kader muda Nahdliyyin yang selama ini mengabdi sebagai pendamping desa.
Ketua PC GP Ansor Sumenep, KH Qumri Rahman, menyoroti adanya kader muda NU yang disebut direlokasi oleh Kementerian Desa tanpa dasar dan pertimbangan yang dinilai jelas serta transparan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi ketika PAN justru mengklaim sebagai partai yang dekat dengan warga Nahdliyyin.
“Di satu sisi PAN mengklaim sebagai partainya anak Nahdliyyin, tetapi di sisi lain melalui menterinya justru ada anak-anak muda NU yang mengabdi sebagai pendamping desa dan mengalami relokasi. Ini sangat bertolak belakang dengan klaim yang selama ini disampaikan,” ujar Qumri.
Qumri menegaskan, jika PAN benar-benar ingin mendekatkan diri dengan warga Nahdliyyin, hal tersebut seharusnya diwujudkan melalui program dan kebijakan yang nyata. Menurutnya, jangan sampai warga Nahdliyyin hanya dijadikan sebagai bagian dari kepentingan politik, sementara kader muda yang benar-benar mengabdi justru merasa dirugikan oleh kebijakan pemerintah.
PC GP Ansor Sumenep, lanjut Qumri, menyatakan dukungan penuh terhadap gerakan yang dilakukan PW GP Ansor Jawa Timur. Ia juga menyerukan agar warga Nahdliyyin tidak dijadikan komoditas politik.
“Kami mendukung penuh gerakan PW Ansor Jawa Timur. Jangan jadikan warga Nahdliyyin sebagai komoditas politik,” tegasnya.
Selain itu, GP Ansor Sumenep meminta Presiden melakukan evaluasi terhadap kinerja Menteri Desa. Qumri menilai persoalan yang terjadi perlu segera mendapatkan perhatian agar kerja-kerja pembangunan dan pemberdayaan desa tidak terganggu. Jika evaluasi tidak dilakukan, GP Ansor Sumenep meminta Presiden mempertimbangkan pencopotan Menteri Desa.
“Menteri Desa harus fokus pada pekerjaannya agar kerja-kerja desa bisa lebih maksimal,” pungkasnya.













Komentar